Senin, 28 Mei 2012

La Ode Muhammad Djafar Dinobatkan Sultan Buton


KENDARINEWS.COM - Baubau, Setelah cukup lama vakum, sekitar 52 tahun, sejak Sultan Buthuuni yang ke-38, La Ode Muhammad Falihi pada tahun 1960, maka rencananya Jumat (25/5)  besok, di Baruga Keraton Kesultanan Buton, Kota Baubau, akan dinobatkan H. La Ode Muhammad Djafar SH sebagai Sultan Buton.
Salah seorang perangkat Kesultanan Buton, Drs Sirajuddin Anda yang menjabat sebagai Bonto Ogena Sukanaeyo mengatakan, penobatan Sultan Buton dalam ritual adat yang dilaksanakan  di Baruga depan masjid Agung Keraton pada hari Jumat (25/5) mendatang merupakan kelanjutan dari proses terdahulu yaitu proses penjaringan pemilihan calon Sultan. "Mulai dari  proses tahapan penjaringan calon sultan melalui kambojae, sesudah kambojae di bawa ke Bonto Ogena untuk mendapatkan kesepakatan.  Dan dalam proses selanjutnya ditindaklanjuti dalam bentuk prosesi adat yang dimulai dengan yang berlaku selama ini yaitu melalui fali,” jelasnya.
   
Fali merupakan salah satu proses penentuan dari pada calon Sultan berdasarkan keyakinan keagamaan untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. “ Melalui acara yang kita lakukan di Baruga Keraton ini yaitu pada acara yang terakhir kita lakukan sukanaya pau (pengumuman sultan terpilih) berdasarkan proses penjaringan secara lahiriah dan  terakhir penelitian terhadap siapa yang layak untuk mendapatkan berkah dan petunjuk dari Allah SWT yang dilakukan pada malam Jumat di masjid Agung keraton,” terangnya.
   
Dijelaskan, pada tanggal 25 Mei 2012  adalah hari yang telah kita sepakati untuk penobatan Sultan di Baruga. Malamnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan pada pukul 24.00 dilanjutkan acara pemberian pemberitahuan kepada Sultan terkait  kapasitasnya sebagai sultan dan perannya yang akan dilakukan kelak.
   
Dari proses penjaringan hingga terpilihnya sultan memakan waktu 120 hari, hal tersebut mempunyai makna tersendiri.
   
Ketua Panitia Penobatan Sultan Buton, La Ode Ahmad Monianse, menguraikan, Kerajaan Buthuuni (Buton) adalah kerajaan yang berdaulat sejak abad ke-13, dan kemudian mengubah status pemerintahannya menjadi Kesultanan Buthuuni pada 1 Ramadhan 948 hijriyah (1540 masehi), ketika itu agama Islam resmi menjadi agama kesultanan.
   
“Kesultanan Buthuuni telah menetapakan sistem pemerintahan yang modern, struktur pemerintahan yang lengkap dengan mencakup segala bidang, pembagian wilayah antara pusat dan daerah dengan masing-masing memiliki kedaulatan sendiri-sendiri selama 7 abad. Namun pada akhirnya, Sultan Buton ke-37, La Ode Muhammad Falihi mangkat tahun 1960, dan sejak itu Kesultanan kekosongan pucuk pemimpin,” jelasnya.
   
Akhirnya, kata Monianse,  pada tanggal 12 Pebruari 2011 tahun lalu, tokoh adat dan budaya se-Kesultanan Buthuuni menggagas pertemuan di Baruga Keraton Buthuuni dengan menghasilkan kesepakatan bersama, yakni membentuk kembali perangkat Kesultanan Buthuuni dan nama Lembaga Adat Kesultanan Buton yang diawali dengan pembentukan Siolimbona.
   
Sejumlah pejabat penting negara telah mengkonfirmasikan kesediaannya untuk hadir dalam penobatan Sultan Buton, H.La Ode Muhammad Djafar SH, 25 Mei 2012 di Keraton Kesultanan Buton, Kota Baubau, SulawesiTenggara. Pejabat tersebut diantaranya, Menko Kesra, Agung Laksono, Wamen Pendidikan dan Kebudayaan, Wakil Ketua DPD-RI La Ode Ida, mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.
   
Selain pejabat negara, juga dua Sultan telah menyatakan kesediaannya untuk hadir, yaitu Sultan Palembang Darussalam, Iskandar Mahmud Badaruddin, dan Sri Sultan Ternate, Mudafar Sjah. Kehadiran Sultan Palembang Darussalam, posisinya sebagai ketua persatuan kerajaan/kesultanan nusantara, sementara untuk Sultan Ternate yakni alasan emosional, dan hubungan kekerabatan, serta sejarah panjang diantara kedua kesultanan tersebut.(sam)

KENDARI POS

RUMAH BUDAYA SULAWESI TENGGARA


Anjungan atau bangunan induk anjungan mengambil bentuk Istana Sultan Buton (disebut Malige) yang megah. Meskipun didirikan hanya dengan saling mengait, tanpa tali pengikat ataupun paku, bangunan ini dapat berdiri dengan dengan kokoh dan megah diatas sandi yang menjadi landasan dasarnya. Patung dua ekor kuda jantan yan sedang bertarung, pelengkap bangunan, menggambarkan tradisi mengadu kuda dari Pulau Muna yang digemari masyarakat Sulawesi Tenggara
Di Taman Mini Indonesia Indah, anjungan Sulawesi Tenggara terletak di sebelah tenggara arsipel, bersebelahan dengan anjungan Sulawesi Selatan serta berhadapan dengan istana anak-anak Indonesia. Dalam memperkenalkan daerahnya propinsi Sulawesi Tenggara menampilkan bangunan induk yang merupaka tiruan dari istana raja Buton yang disebut Malige.
Bangunan ini sengaja ditampilkan karena bangunan yang asli masih ada di pulau Buton serta merupakan satu peninggalan budaya yang bersejarah. Di halaman anjungan dilengkapi dengan patung-patung orang berpakaian adat antara lain dari daerah Buton, Muna, Kendari dan Koloka. Juga patung 2 ekor kuda jantan yang sedang berlaga, memperebutkan kuda betina. Adegan in menggambarkan Pogerano Ajara, jenis aduan kuda khas Sulawesi Tenggara, dan merupakan permainan raja-raja. Selain Anoa, Rusa dan lain-lain.
Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Banguanannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar.
Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala da semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong.
Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
Adapun susunan ruangan dalam istana ini adalah sebagai berikut:
1 Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebgai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebgai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebgai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan diperguakan sebagai makar anak perempouan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.
Di anjungan Sulawesi Tenggara, lantai pertama ini konstruksi atau susunan ruangan sudah diubah sesuai dengan keperluan, sebagi pameran dan peragaan aspek kebudayaan daerahnya. Di sini dipamerkan pakaian kebesaran tradisional raja Kendari beserta permaisurinya, juga pakaian kebesaran raja Muna,panglima perang atau Kapitalao, menteri besar atau Banto Balano dan Pasi yakni petugas pengurus benda pusaka kerajaan. Semuanya dipamerkan dengan bentuk boneka berpakaian tradisional tersebut. Di ruanga inipun dioamerkan berbagai jenis hasil kerajiana perak Kendari, kerajinan anyaman-anyaman, tenunan serta benda-benda pusaka, beberapa goci dan berbagai binatang yang telah diawetkan seperti penyu, burung Meleo, penyu bersisik, biawak, enggang dan lain-lain.
2 Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula.
3 Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi
4 Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Disamping kamar bangunan Malige terdapat sebuah banguan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini di[pergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukira naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan dibawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandunga makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton.
Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas in dilambangakan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia. Anjugan daerah Sulawesi Tenggara dibangun sejak tahun 1973 dan diresmikan pengggunaannya pada tahun 1975.
Bertindak sebagai perancang terutama pada bangunan induknya adalah orang-orang adat dari bekas kesultanan Buton. Pada halaman anjungan terdapat arena pertunjukan dengan latar belakang relief, yang menggambarkan kebudayaan di Sulawesi Tenggara. Di arena inilah pada hari Minggu atau hari libur dipagelarkan kesenian tradisional seperti tari-tarian antara lain tari Kalegoa, tari Lariangi, tari Balumpa, tari Malulo dan lain-lain. Jenis tarian terakhir merupakan tarian pergaulan yang ditarikan dengan membentuk suatu lingkaran, bila besarnya lingkaran telah mencapai lebar arena, dibentuk lagi lingkaran baru di dalamnya, begitu seterusnya sehingga membentuk lingkaran yang berlapis-lapis karena semakin banyak orang yang melibatkan diri ikut menari tarian Malulo ini.
Selain itu juga ditampilkan musik lagu-lagu daerah, dan diwaktu-waktu tertentu dipamerkan makanan-makanan khas daerah Sulawesi Tenggara ataupun karnaval tradisional. Anjungan daerah Sulawesi Tenggara telah menerima kunjungan tamu negara pada tanggal 1 Mei 1983 yakni istri P.M Jepang, Ny. Tautako Nakasone dan pada tanggal 10 November 1984 berkunjung pula istri P.M. Thailand, Ny. Virat Chomanan-
(TMII)

Jumat, 25 Mei 2012

Sultra Iming-imingi Bonus Atlet PON


Kendari - Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam mengiming-imingi bonus bagi atlet peraih medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012. Namun Gubernur Sultra yang juga Ketua Umum KONI belum merinci besaran bonus yang dimaksudkan sebagai perangsang atlet dan pelatih menghadapi perhelatan akbar empat tahunan tersebut.

"Pemerintah dan KONI memastikan adanya penghargaan berupa bonus bagi atlet yang sukses menyumbangkan medali emas, perak maupun perunggu pada PON XVIII," kata Nur Alam saat memimpin rapat persiapan pelatda di Kendari, Senin (21/5).
"Pada PON XVII 2008 silam dialokasikan bonus bagi peraih medali emas sebesar Rp70 juta. Besarannya tidak jauh berbeda dengan bonus yang lalu," katanya sembari tersenyum.

Ia mengimbau atlet, pelatih dan semua pihak yang terlibat dalam persiapan menghadapi PON agar menjaga kekompakan dan saling memaklumi sehingga semua berjalan lancar dan tujuan yang dicita-citakan tercapai.

"Daerah kita berbeda dengan daerah lain. Pembiayaan olahraga masih tergantung kepada pemerintah sementara daerah lain sudah melibatkan pihak ketiga," katanya.

Oleh karena itu, kekurangan yang dihadapi dijadikan motivasi untuk mencari jalan keluar, bukan justru menyurutkan semangat sebelum bertanding.

Sekretaris PODSI Sultra Arifin L Godo mengatakan bonus adalah perasang atlet dan pelatih dalam berlatih.

"Lebih dini disampaikan besaran bonus bagi peraih medali emas, perak dan perunggu lebih baik. Artinya, janji bonus tidak berarti apa-apa kalau sudah diarena pertandingan.

Pada PON XVIII Riau 2012 Sultra meloloskan 15 cabang olahraga dengan kekuatan 133 atlet dan menargetkan 10 medali emas. [EL, Ant]


http://www.gatra.com/olahraga/34-olahraga/12864-sultra-iming-imingi-bonus-atlet-pon

Kamis, 24 Mei 2012

Pulau Indo, Kabupaten Muna

Kabupten Muna mempunya banyak tempat tempat wisata, diantaranya tempat rekreasi yang paling menarik Pulau Indo yang berada di Kecamatan Tikep banyak jalur untuk menempuh tempat rekreasi ini seperti Melalui Kec. Napabalano (Tampo), Kec. Kusambi (Tanjung Pinang, Lakawoghe), Kec. Napano Kusambi (Latawe), dan Jalur Tikep lewat Tondasi. Objek Wisata Bahari Pulau Indo di bangun pada tahun 2006 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan.
Objek Wisata ini menawarkan hamparan pasir putih yang begitu luas bila pada saat air surut. dan bila air pasang bangunan tempat untuk peristrahatan seperti rumah² atau yang biasa di sebut gazebo berada diatas air jadi tempatnya terapung membuat kita terasa sejuk berada di tempat ini, seperti pada gambar berikut
Objek Wisata Bahari Pulau Indo ini mempunyai kemiripan dengan Objek Wisata Pantai Seleb Dunia.
Akses Tempat
Dari Kota Raha kita bisa melalui Jalur Tampo (Napabalano), Tondasi (Tikep), Tanjung Pinang, Lakawoghe (Kusambi). Disini saya mengambil jalur Kusambi karena waktu tempu dari kota raha karena jarak Pusat Ibu kota (Raha) dengan Desa Tanjung Pinang (Kusambi) kurang lebih 30Km dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan dan dari Tanjung Pinang kita naik Perahu Sampan, Katinting dengan jarak tempuh 30 menit – 1 jam. Dan untuk Jaringan Telepon Seluler yang ada di Pulau Indo adalah Telkomsel dan Indosat.

Rabu, 23 Mei 2012

Pulau Hoga, Kecantikan Sempurna dari Sulawesi Tenggara

Pohon kelapa dan pasir putih khas Pulau Hoga (arya sadhewa/dTraveler)

Mari selami keindahannya (Oke Hastiawan/ACI)

Terumbu karang yang cantik 

(Oke Hastiawan/ACI)

Penginapan di Pulau Hoga (Terryna Padmi Tunjungsari /ACI)

Senja di Pulau Hoga (Kak Nunuk/ACI)

Namanya mungkin kurang terkenal dari Bunaken atau Raja Ampat. Akan tetapi, Pulau Hoga yang berada di Wakatobi, Sulawesi Tenggara ini memiliki pesona bagi para penyelam. Kecantikan lautnya sungguh sempurna.

Wakatobi merupakan surga penyelam yang terletak di Sulawesi Tenggara. Salah satu dari 29 titik penyelaman di Wakatobi adalah Pulau Hoga. Pulau ini memiliki kekayaan biota bawah laut dan juga keindahan pantai. Saat berkunjung ke Wakatobi, yang dapat ditempuh dengan penerbangan melalui Wangi-wangi, sempatkanlah mengunjungi Pulau Hoga.


Dari situs resmi pariwisata Indonesia yang dikunjungi detikTravel, Senin (21/5/2012), Pulau Hoga memiliki luas sekitar 1,3 juta hektar dan merupakan gabungan dari beberapa pulau. Pulau ini mempunyai 750 spesies koral dari sekitar 850 yang ada di dunia. 

Saat menyelam, Anda akan bertemu 83 jenis ikan berwarna-warni yang cantik. Beberapa jenis ikan yang dapat Anda temui di sana seperti takhasang, pogo-pogo, napoleon, baronang, dan masih banyak lagi. Tak heran tempat ini menjadi favorit bagi para penyelam.

Pantainya pun memiliki pesona yang menggoda. Sepanjang mata memandang, hamparan pasir putih menyelimuti pantai di Pulau Hoga. Dengan daratan yang ditumbuhi pohon kelapa dan lambaian angin laut, tidak sedikit wisatawan yang menghabiskan waktunya untuk bersantai di pantai.

Untuk penginapan, di Pulau Hoga terdapat beberapa penginapan yang nyaman dan memadai. Penginapan-penginapan di sini memiliki kisaran harga Rp 200.000-300.000 per harinya. Kebanyakan, penginapannya terbuat dari kayu dan tanpa AC atau pun kipas. Hal ini pun akan membuat Anda lebih syahdu dalam menikmati tiap detik di Pulau Hoga. Selain itu, di Pulau Hoga juga terdapat dive center untuk Anda yang ingin menyelam.

Tidak hanya wisatawan lokal, banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Hoga. Keindahan bawah lautnya akan membuat Anda takjub dengan terumbu karang dan ikan laut yang berwarna-warni.


sumber : http://travel.detik.com/read/2012/05/21/165536/1921075/1025/5/pulau-hoga-kecantikan-sempurna-dari-sulawesi-tenggara

Kamis, 26 April 2012

Tentramnya Kehidupan 'Kampung Terapung' Sungai Lanowulu

Para nelayan yg sedang mencari ikan dan udang di Rawa Aopa
(Sumber: tnrawku.wordpress.com)
Kehidupan masyarakat di muara Sungai Lanowulu, Sulawesi Tenggara sangatlah unik. Masyarakat setempat membuat peradaban di atas sungai. Sangat kontras dengan hiruk pikuk kehidupan perkotaan.

Taman Nasional Rawa Aopa di Sulawesi Tenggara menyimpan banyak keunikan. Selain alamnya yang masih sangat terjaga, taman nasional ini juga punya perkampungan nelayan.

Perkampungan Lanowulu yang tenang (Kak Nunuk/ACI)
Suasana Kampung Nelayan Lanowulu bila dilihat dari perahu
(Kak Nunuk/ACI)
Sekilas kehidupan nelayan di perkampungan ini tidak ada yang aneh. Setiap harinya mereka berburu ikan-ikan yang tinggal di Sungai Lanowulu. Namun, bila terus masuk hingga sampai di perkampungannya barulah Anda tahu mengapa kehidupan masyarakat ini dikatakan unik. Menuju perkampungan nelayan di muara Sungai Lanowulu, Kabupaten Konowe Selatan, Sulteng ini butuh waktu setengah jam. Hutan bakau menjadi tonggak puluhan bangunan yang ada di atasnya. Ya, rumah para nelayan ini berada di atas permukaan air.

Untuk yang baru pertama kali ke perkampungan ini pasti merasa ngeri. Rumah-rumah ini seluruhnya terbuat dari batang pohon bakau. Sampai-sampai alas untuk menjejekan kaki juga terbentuk dari susunan batang bakau. Ngeri, takut kepleset, dan tercebur itu sudah pasti. Tapi tenang saja, kalau Anda berjalan dengan hati-hati hal tersebut tidak akan terjadi. 
Terlihat masyarakat kampung yang sedang mengarungi Sungai lanowulu
menggunakan ketinting atau perahu
(Kak Nunuk/ACI)
Kehidupan yang selaras dan menyatu dengan alam sangat terasa di sini. Sejauh kaki melangkah mengelilingi kampung, Anda akan melihat rumput laut yang dibiarkan mengampar di jalan. Tawa anak-anak kampung ini senantiasa menemani Anda saat berada di sini. Sesuai dengan namanya, perkampungan yang didiami oleh 24 kepala keluarga ini memiliki mata pencarian sebagai nelayan.

Rata-rata dari mereka merupakan suku Bugis asli. Mencari ikan, udang, dan kepiting bakau. Dalam kesehariannya mereka berburu menggunakan peralatan yang tradisional dan tidak merusak lingkungan, seperti bubu dan togo. Bubu berbentuk seperti keranjang, sementara togo serupa jaring yang dilempar ke laut.

Terlepas dari kehidupannya yang unik, alam sekitar perkampungan nelayan ini juga tak kalah menarik. Ikut bersama nelayang mencari ikan ke Rawa Aopa bisa jadi hal yang menyenangkan dan tak kan terlupakan. Ketinting, perahu khas masyarakat setempat siap membawa Anda ke tengah Rawa Aopa. Rawa seluas 15.000 hektar ini memberikan beragam panorama alami yang cantik. Kemegahan Gunung Mukaleleo terlihat jelas. Pemandangan yang sangat kontras dengan rawa yang dipenuhi oleh tanaman pandan.

Kicauan serta aktivitas burung-burung penghuni rawa menjadi teman selama perjalanan. Ada Elang Bondol yang berburu mangsa, gerombolan belibis kembang, juga cangak abu yang bersembunyi di antara tanaman pandan.

Wow, sungguh menakjubkan kehidupan alam di tenggara Sulawesi ini. Alam, hewan, tanaman, serta masyarakatnya hidup berdampingan. Tidak ada yang merusak satu sama lain, semuanya saling menjaga keserasian alam yang telah diciptakan Sang Kuasa. 

Jumat, 20 April 2012

Jamuan Khas Sultra (Kendari)

----Sinonggi----

Sinonggi ini makanan khas dari Propinsi Sulawesi Tenggara (kendari) yang terbuat dari Sagu. Kebetulan lagi papaku berasal dari Kendari, tapi aku juga ga doyan sama sinonggi :((

Dulu Sinonggi ini menjadi makanan sehari-hari masyarakat Kendari, tapi sekarang hanya sesekali atau disajikan pada saat acara-acara besar, acara adat atau acara keluarga.

Cara Penyajiannya yaitu sagu dicampur dengan air panas yang sebelumnya telah di didihkan, lalu diaduk sampai menjadi seperti lem, cara mengaduknya pun harus benar dan kuat, terkadang sinonggi jadi kurang bagus, apabila airnya tidak mendidih dan cara mengaduknya tidak rata.

Sinonggi disajikan dengan kuah sayur atau kuah ikan, pertama-tama kuah sayur/ikan dituangkan ke dalam piring secukupnya, barulah sinonggi di taruh dipiring tersebut (jadi sinonggi tidak lengket pada piring), kemudian dipotong bulat-bulat agar lebih mudah memakannya, agar lebih nikmat bisa dikombinasikan dengan ikan2 segar dan sambal.

Ini yang penting, cara memakan Sinonggi tidak perlu dikunyah seperti kita memakan nasi, jadi langsung ditelan!!!

#Selamat Menikmati#

lapa-lapa: kuliner khas dari buton sulawesi tenggara


Indonesia  sangat kaya akan kuliner yang ajib dan mak nyus, di setiap daerah pasti mempunyai kuliner khas masing-masing walaupun biasanya ada yang sedikit mirip tetapi soal rasa pasti berbeda dan pastinya semua enak.kali ini kita coba angkat kuliner khas dari buton sulawesi tenggara, makanan itu adalah lapa-lapa mempunyai rasa yang guri dan enak, apalagi dikonsumsi dengan ikan kaholeonarore (ikan asin) semakin menambah selerah makan.

kuliner ini jika di jawa mungkin lebih di kenal dengan lepet / lepat,tetapai cara memasak lapa-lapa berbeda dengan lepet/ lepat karena jika lapa-lapa berasnya dimasak bersama-sama santan, sampai setengah matang lalu diangkat. Kemudian didinginkan, dan selanjutnya dibungkus dengan bale (janur). Setelah itu direbus kembali sampai matang. Supaya rasanya lebih guri, lapa-lapanya dikukus agak lama.

kesamaan lapa-lapa dan lepet mungkin sama-sama mudah di temukan saat lebaran tiba karena lapa-lapa seperti menjadi menu wajib bagi setiap orang di buton saat datangnya lebaran sama seperti lepet yang jadi menu wajib selain ketupat tentunya.



http://www.duniakuliner.info/2011/06/lapa-lapa.html

Kota Kendari Punya Dua Pasar Tertib Ukur


INILAH.COM, Kendari - Kota Kendari memiliki dua pasar tertib ukur. Kedua pasar tersebut yakni, Pasar Andounohu dan Pasar Lapulu.

Hal ini diungkapkan Kabid Perdagangan, Disperindagkop, Kota Kendari, Abdul Sukur, kepada Media Sultra, Rabu (18/4/2012) di ruang kerjanya.
“Dinobatkannya dua pasar ini sebagai pasar tertib ukur, berdasarkan hasil penilaian UPTD Metrologi Sultra. Dari hasil verifikasi, bahwa kedua pasar ini merupakan pasar yang tertib timbangan, sangat kecil sekali kemungkinan terjadinya kecurangan. Olehnya itu kementrian perdagangan menobatkan dua pasar tersebut sebagai pasar tertib ukur, pada akhir 2011 kemarin, ” akunya.

Dikatakan, tertib ukur karena kedua pasar ini dalam mengukur, menimbang dal lainnya sangat tertib, tidak ada timbangan yang dikurangi.
“Karena tertibnya pedagang dalam mengukur sesuai dengan aturan yang ada, apakah itu daging yang dikilokan, ataupun bahan-bahan pokok lainnya, membuat proses jual beli berjalan dengan lancar, ” jelasnya.

Dengan diberikanya reward yang masih berupa sertifikat, pihaknya berkomimen, kedepannya reward yang diberikan dirasakan langsung oleh pedagang.
“Kemungkinan kita akan mengusulkan, bagaimana dengan mengganti timbangan pedagang yang mungkin sudah rusak atau mulai rusak di kedua pasar itu. Hal ini sudah kami pikirkan, dan akan mengajukan ke pusat, ” bebernya.

Pihaknya juga akan membuka ruangan pos ukur ulang di kedua PD tersebut, serta berkoordinasi dengan PD. Pasar kedua pasar. Ini dimaksudkan, agar cmemudahkan pengawasan baik timbangan maupun harga.

Selain itu pihak disperindag, khususnya bagian perdagangan akan mendapatkan satu unit mobil pengawasan yang dijdwalkan semester dua mendatang. Mobil pengawasan tersebut berfungsi untuk mengawasi khususnya tera ulang timbangan, dan dilengkapi dengan perlengkapan metrology. [gus]

Kamis, 19 April 2012

Objek Wisata Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara

PANTAI NIRWANA
PANTAI NIRWANA
Berjarak 11 km dari pusat Kota Bau-Bau dan biasanya ditempuh melalui jalur transportasi darat. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih sejauh 1 km dan menyuguhkan panorama sunset nan indah. Pada bagian lain terdapat lekukan batu karang berbentuk gua yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan. Selain itu, kondisi ombak yang relatif tenang dapat dimanfaatkan untuk bersampan, memancing, sky air, menyelam (diving), volley pantai, dan olahraga air lainnya.Di lokasi ini telah pula dilengkapi dengan beberapa buah gazebo, kamar ganti dan rumah peristrahatan serta pedagang minuman ringan.

PANTAI LAKEBA
PANTAI LAKEBA
Berjarak sekitar 7 km dari pusat Kota Bau-Bau ditempuh melalui transportasi darat. Pantai ini sangat baik untuk berjemur pada waktu siang, berenang, menyelam serta menikmati indahnya matahari terbenam. Selain sebagai objek wisata, pantai ini juga menjadi tempat aktivitas nelayan pada saat akan melaut.



PERMANDIAN ALAM BUNGI
PERMANDIAN ALAM BUNGI
Berjarak sekitar 8 km dari pusat Kota Bau-Bau yang dapat ditempuh melalui jalur transportasi darat dan laut. Air terjun bertingkat yang sejuk dibawah kerindangan pohon yang cukup rindang. Dibeberapa bagian terdapat areal permandian yang cukup luas untuk berenang dengan kedalaman 1 sampai 4 meter.





TIRTA RIMBA
TIRTA RIMBA
Terletak 6 km sebelah barat pusat Kota Bau-Bau di Kelurahan Lakologou Kecamatan Wolio. Air terjun ini berada dalam kawasan hutan lindung merupakan daya tarik natural tersendiri.








SAMPARONA
SAMPARONA
Terletak di Kecamatan Sorawolio, 13 km dari pusat Kota Bau-Bau. Ditempuh sekitar 7 km dari tepi jalan poros Bau-Bau - Pasarwajo dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak melewati sawah dan kebun penduduk serta hutan tropis yang cukup lebat. Air terjun dengan ketinggian hampir seratus meter ini cukup dengan debit air yang selalu besar mampu menghilangka rasa letih setelah berjalan jauh . Bagi mereka yang menggemari wisata petualang ini jelas suatu tantangan yang menawan.






LAGAWUNA
LAGAWUNA
Objek wisata ini terletak di Kelurahan Karya Baru Kecamatan Sorawolio 24 KM dari pusat Kota Bau-Bau yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat. Air Terjun Lagawuna menyuguhkan keindahan alam dan sejuknya hutan pinus dan kicauan berbagai jenis burung.






GUA LAKASA
GUA LAKASA
Gua ini merupakan objek wisata alam yang terletak 10 km dari pusat kota dapat ditempuh dengan transportasi darat, sejauh 1 km dari jalan poros Kelurahan Sula Kecamatan Betoambari. Gua dengan kedalaman 120 meter menyuguhkan keindahan batu stalakmit dan stalaktik juga terdapat sumber air didalamnya.





Untuk Keterrangan lebih lanjut silahkan Kunjugi www.baubau.go.id terdapat fotot tempat wisata.

Kakao, Nesstle Investasi USD 200 Juta untuk Bangun Pabrik


KENDARINEWS - JAKARTA, Nesttle SA, sebuah perusahaan asal Swiss, bakal berinvestasi senilai USD 200 juta untuk mendirikan pabrik kakao di Indonesia. Rencana Nesttle untuk investasi di dalam negeri harus mendapat dukungan dari pemerintah, karena akan membuka lapangan kerja baru. Selain itu, diprediksi beberapa tahun ke depan pasarnya akan sangat besar.
”Apabila investor lainnya juga ingin investasi seperti yang dilakukan Nesttle, maka pasar kakao di dalam negeri akan tumbuh besar,” kata Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang di Jakarta, Jumat (7/10) lalu.
Kakao
Ia mengatakan, pasar kakao di Indonesia akan tumbuh signifikan dengan masuknya sejumlah investor asing ke industri tersebut, selain pasar yang besar juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi. “Kami optimis industri kakao akan kembali berkembang, karena sejumlah produsen kakao di dalam negeri cenderung mati suri,” katanya.
   
Nesttle sebelumnya mendirikan pabrik kakao di Malaysia, namun pasarnya dinilai kecil, sehingga sulit berkembang, karena itu berusaha untuk melebarkan sayapnya dengan masuk ke pasar Indonesia. Produk kakao dari Malaysia pada umumnya diekspor ke Indonesia seperti Milo (susu bubuk coklat). Pasar kakao Indonesia yang besar itu menarik Nesttle untuk melakukan ekspansi usaha di Asia khususnya di Indonesia, karena jumlah penduduknya yang besar.
   
Meski saat ini produksi kakao Indonesia merosot hampir 50 persen, akibatnya banyak petani kakao yang mengalihkan kegiatannya ke karet dan kelapa sawit. “Kalau menanam kakao banyak menemui kesulitan karena banyak penyakit, apalagi saat ini iklim tak menentu, dibanding menanam karet, jagung dan kelapa sawit,” jelasnya.
   
Lantaran para petani harus mendapat penyuluhan dan pemerintah juga harus giat melakukan promosi agar investor asing lebih aktif melakukan ekspansi di pasar domestik. Konsumsi kakao di dalam negeri sekitar 200 ribu ton per tahun, namun kapasitas yang ada baru 170 ribu ton, sehingga sisanya diperoleh dari impor. (jpnn/awl)

Selasa, 17 April 2012

Napabale, Danau Indah Berair Asin Di Muna, Sulawesi Tenggara


Berkunjung ke Sulawesi Tenggara, terutama ke Kabupaten Muna, objek wisata yang bisa dikunjungi adalah Danau Napabale. Danau Napabale selain memiliki keindahan alam yang menakjubkan, juga memiliki kekhasan tersendiri, yaitu airnya yang asin. Air asin ini terjadi karena Danau Napabale terhubung dengan Laut Napabale melalui sebuah terowongal alam yang mengakibatkan air laut masuk ke dalam danau. Jadi, bukan sesuatu yang aneh ya, kalau air danaunya asin.
Pemandangan alam yang menakjubkan di sekitar Danau Napabale ini terutama karena posisinya yang berada di sekitar kaki bukit, sehingga pepohonan rindang yang ada di bukit membuat suasana menjadi sejuk dan rindang. Dari Kota Raha, Kabupaten Muna, perlu berkendara sekitar 15 kilometer menuju Desa Korihi.
Bagi masyarakat lokal, Danau Napabale menjadi lintasan mereka jika hendak menuju laut, melewati terowongan yang menghubungkannya. Dalam keadaan surut, tinggi air danau hanya sekitar 1,5 meter saja. Dalam keadaan pasang, bisa mencapai 5 meter. Di sekitar danau, banyak terdapat daun pandan muda tumbuh. Selain Danau Napabale, di Kabupaten Muna juga terdapat sebuah situs purbaberupa gua yang terdapat di atas bukit dan di dalamnya terdapat lukisan manusia purba. (Sumber gambar: IndonesianBeach)

LA ODE SIRAD, PELESTARI BAHASA MUNA


Oleh Yamin Indas
Tidak banyak orang yang mau bekerja gratis. Apalagi pada zaman serba materialistis seperti sekarang, kian banyak orang yang hanya berpikir akan mendapat apa jika dia berbuat sesuatu. Salah satu di antara orang langka itu adalah La Ode Sirad.
La Ode Sirad, yang akrab dipanggil Imbo, adalah putra keenam La Ode Dhika, Raja Muna kedua dari urutan terakhir. Imbo tak hanya peduli terhadap nasib masyarakat bawah yang tidak berdaya di depan hukum, tetapi dia juga prihatin pada kelangsungan bahasa daerah Muna.
Mantan pegawai Bank BNI itu lalu bercerita betapa orang-orang asal Muna yang sekarang tinggal di kota semakin jarang yang mau menggunakan bahasa daerah Muna, bahasa ibunya. Setidaknya itulah hasil pengamatannya.
Menurut Imbo, orang asal Muna berbeda dengan mereka yang berasal dari Buton atau Tolaki. Dua kelompok etnis tersebut dinilainya masih suka menggunakan bahasa daerah mereka meski dalam lingkungan resmi, seperti di kantor-kantor pemerintah. "Sebaliknya, di kantor Bupati Muna jarang terdengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Muna," ujarnya.
Orang Muna adalah penduduk asli yang berdiam di Pulau Muna, pesisir Pulau Buton, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Kadatua, Siompu, dan Talaga. Etnis Muna juga merupakan salah satu kelompok terbesar warga Kota Kendari. Secara administratif, mereka mendiami Kabupaten Muna dengan populasi 290.358 jiwa (2006), Kabupaten Buton, Kabupaten Bombana, dan Kota Kendari.
Merasa khawatir bahasa Muna bakal segera punah, Imbo berusaha melestarikan bahasa daerah itu. Cara yang dia lakukan adalah dengan menyusun kamus lengkap Bahasa Muna-Bahasa Indonesia.
Selama dua tahun terakhir ini dia berhasil menghimpun kosakata, derivasi, dan ungkapan dalam bahasa Muna sebanyak 13.000 entri."Naskahnya akan dirampungkan awal Januari 2008 ini sehingga kamus ini bisa dicetak secepatnya," kata Imbo.
Dalam membuat manuskrip kamus tersebut, pria berusia 67 tahun itu menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua terbitan 1991 sebagai panduan. "Sebagai proses awal, kamus itu saya alihkan ke dalam bahasa Muna," ujar Imbo tentang teknis penulisan manuskrip kamus.
Prof Dr La Ode Sidu Marafad, anggota Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama (1988), menyatakan sangat menghargai usaha Imbo melestarikan bahasa Muna dengan cara menyusun kamus.
"Kita salut pada semangat dan menghargai kepedulian Pak Imbo terhadap bahasa daerah Muna," ujar dosen Bahasa Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo Kendari itu.
Bagi Sidu, punahnya suatu bahasa daerah merupakan kecelakaan sejarah peradaban sebuah komunitas etnis. Sebab, kata dia, bahasa merupakan identitas dan budaya dasar manusia dari sebuah kelompok sosial atau etnis.
Biaya penerbitan
Secara teknis, penyusunan Kamus Bahasa Muna-Bahasa Indonesia yang dilakukan Imbo sudah rampung. Manuskripnya hanya tinggal diketik rapi, untuk selanjutnya dibawa ke percetakan.
Masalahnya, siapa yang mau membiayai penerbitan kamus bahasa daerah tersebut? Pemerintah Kabupaten Muna melalui Sekretaris Daerah La Ode Kilo menyatakan sanggup membantu membiayai penerbitan kamus bahasa daerah tersebut.
Pasalnya, kalau menunggu dari Imbo tak mungkin. Sudah lima tahun terakhir ia "pensiun" sebagai kontraktor proyek pemerintah berskala kecil dan sesekali berbisnis kayu jati sebelum hutan jati Muna habis dijarah.
Kecuali semangat dan idealisme yang masih berkobar-kobar, kehidupan Imbo kian meredup pada usianya kini. "Kami sekeluarga hidup dari tabungan yang sebagian juga digunakan untuk membiayai penyusunan kamus," katanya.
Bantuan hukum
Sebelum menekuni pembuatan kamus bahasa daerah, selama belasan tahun Imbo sempat berpraktik sebagai pemberi bantuan hukum tanpa dibayar oleh mereka yang berperkara di pengadilan. "Banyak yang mau kasih tanah atau kalung emas sebagai ucapan terima kasih, tetapi saya tolak. Secuil pengetahuan hukum yang saya miliki tidak diperoleh melalui bangku sekolah, hanya otodidak. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk mengomersialkan ilmu tersebut," katanya beralasan.
Imbo memang bukan sarjana hukum. Namun, dia gemar membaca buku-buku hukum. Sebuah lemari buku di kamar kerjanya berisi buku-buku yang umumnya tentang hukum.
Salah satu koleksi buku Imbo adalah Hukum Pidana berisi kumpulan kuliah Prof Satochid Kartanegara SH dan pendapat-pendapat para ahli hukum terkemuka lainnya. Buku stensilan itu, cerita Imbo, merupakan pemberian pengacara Adnan Buyung Nasution. "Itu tanda mata dari Abang (Adnan Buyung Nasution) ketika saya bertandang ke rumahnya di Jakarta," tutur Imbo.
Sulitnya masyarakat menengah-bawah untuk mendapatkan rasa keadilan bila ingin menyelesaikan masalah melalui lembaga peradilan menjadi motivasi paling kuat bagi Imbo untuk belajar hukum secara otodidak. "Katanya kita negara hukum, tetapi mengapa rakyat kecil malah sering kali menjadi korban hukum?" ucap ayah empat anak itu menggugat.
Perkembangan dunia hukum di Indonesia memunculkan peluang bagi lulusan SMA Negeri 1 Kendari tahun 1969 itu untuk berperan membela rakyat kecil di pengadilan. Negara menyediakan advokat bagi warga yang tak mampu membayar pengacara menyusul berlakunya KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) pada akhir 1981.
Karena di wilayah Pengadilan Negeri (PN) Raha, ibu kota Kabupaten Muna, belum ada pengacara yang berpraktik, Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara diKendari membuka kesempatan kepada warga setempat untuk menjadi penasihat hukum.
Setelah mengikuti ujian seleksi calon pemberi bantuan hukum yang dilakukan PT Sultra, Imbo diberi izin praktik di PN Raha. Maka, jadilah dia seorang "pokrol bambu", pengacara tanpa gelar sarjana hukum. Dari negara, ia mendapat honor Rp 100.000 untuk setiap perkara yang ditangani.
Meski hanya seorang "pokrol bambu", ia mengaku banyak memenangi perkara warga yang dibelanya, termasuk gugatan praperadilan. Salah satu gugatan praperadilan yang dia anggap istimewa adalah kasus praperadilan terhadap Kepala Polres Muna pada tahun 1982. Kepala Polres Muna divonis bersalah oleh PN Raha karena menahan mobil bak terbuka milik seorang warga tanpa dasar hukum kuat.
Setelah ada ketentuan bahwa pengacara harus bergelar sarjana hukum, Imbo mengundurkan diri. "Saya masih dipertahankan Ketua PT Sultra karena hampir semua perkara yang saya tangani menang di pengadilan," ceritanya.
Perkara terakhir yang dia tangani adalah sengketa tanah (perdata) pada 1997. Ia menjadi penasihat hukum La Ode Kaimoeddin, Gubernur Sultra (waktu itu) yang juga kakaknya dari lain ibu. Raja Muna La Ode Dhika yang turun takhta tahun 1938 itu memiliki 11 istri dengan 27 anak.
Biodata
* Nama: La Ode Sirad
* Lahir: Raha, Kabupaten Muna,
         Sulawesi Tenggara, Agustus 1940
* Pendidikan:
  SMA Negeri 1 Kendari, 1969
* Istri: Rosiana Mustamu (54)
* Anak :
- Fajar Imbo SP (40)
- Hartini (38)
- Yesi Katrina (29)
- Sherly Amelia (26)
- Lita Apriani (25)
- Yane Louisa (18)
* Pencapaian:
- Presiden Direktur PD Soliwunto,
  Badan Usaha Milik Daerah
  Kabupaten Muna, pada 1970-an
- Anggota DPRD Muna periode
  1982-1987
- Memberi bantuan hukum mulai
  sekitar 1981-1997
(Sumber : KOMPAS)