Sabtu, 21 Juli 2012

Spesies Tikus Langka Ditemukan di Pegunungan Mekongga Sulawesi Tenggara

Margaretamys christinae. Foto diperoleh dari Alessio Mortelliti/Sapienza University Roma
Inilah Margaretamys christinae. Seperti tiga saudaranya, ia tinggal di alam liar Sulawesi, di sela rapatnya hutan pegunungan Mekongga, tubuhnya kecil dengan ekor berujung putih.
Tikus kecil ini bukan sembarang pengerat. Spesies ini baru ditemukan di wilayah hutan pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara.
Penemuan spesies Margaretamys christinae, yang merupakan spesies keempat di genus Margaretamys (semuanya adalah hewan endemik Sulawesi), memiliki “implikasi konservasi and geografis” demikian setidaknya menurut Dr. Alessio Mortelliti, seorang peneliti dari Sapienza University di Roma sang penemu spesies ini saat melakukan ekspedisi ke Mekongga mulai Desember 2010 hingga Maret 2011.
“Ekspedisi ini adalah sebuah ekspedisi yang dilakukan di pegunungan Mekongga sejak tahun 1932,” ungkapnya pada Jakarta Globe.
Spesies ini adalah spesies keempat dari genus Margaretamys. Foto diperoleh dari Alessio Mortelliti/ Sapienza
University Roma
Ekspedisi yang didanai oleo Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund, dilakukan untuk mengumpulkan data dari berbagai species yang dideskripsikan oleo seorang peneliti Jerman 80 tahun silam bernama Gerd Heinrich. Kendati tak semua spesies yang dicari berhasil ditemukan, Mortelliti berhasil menemukan spesies tikus baru di ketinggian 1537 meter dari permukaan laut ini.
Dia mengatakan, ada beberapa perbedaan antara spesies baru ini, M. christinae dengan tiga spesies Margaretamys terdahulu -M.beccarii, M. elegans dan M. parvus.
“Bagian ujung belakang bagian ekornya berwarna putih, hal ini berbeda dalam beberapa ciri mendasar dan karakteristik gigi, dan ia memiliki ukuran yang lebih kecil,” jelasnya.
Dan soal namanya? “Spesies ini dinamai sesuai nama kekasih saya Christina, yang berbagi pengalaman bersama saya selama ekspedisi ini berlangsung,” ungkap Mortelliti lebih jauh.
Tulisannya tentang penemuan ini akan diterbitkan dalam edisi berikut dari jurnal Tropical Zoology. Mortelliti menambahkan, penemuan mamalia baru bukan sesuatu yang biasa. “Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 8 hingga 10 juta spesies mamalia masih belum ditemukan,” jelasnya. “Kendati penemuan jenis invertebrata relatif sering terjadi, namun penemuan spesies mamalia adalah sesuatu yang amat jarang.”
Namun ia yakin pegunungan Mekongga masih memiliki berbagai kejutan lain yang belum ditemukan.
“Saya sangat yakin bahwa sangat mungkin beberapa spesies lain yang belum ditemukan masih ada di area ini, termasuk spesies Margaretamys lainnya,” tam bah Mortelliti.
Margaretamys christinae. Foto dieproleh dari Alessio Mortelliti/Sapienza University Roma
“Semuanya adalah spesies hutan, dan mereka terancam kehilangan habitat. Pegunungan Mekongga terancam penebangan dan ekspansi perkebunan coklat. Pembentukan wilayah hutan lindung akan sangat membantu melindungi spesies endemik yang langka ini,” tambahnya.
Dalam ekspedisi ini, Mortelliti juga menemukan bahwa spesies tupai kerdil (Prosciurillus abstrusus) masih eksis di area ini  dan juga merupakan spesies endemik di wilayah Mekongga.
Dia juga menemukan spesimen dari Maxomys dollmani atau tikus berduri Dollman, salah satu dari empat spesies pengerat yang berusaha dicari dalam ekspedisi ini.
“Tiga spesies lainnya mungkin masih belum terdeteksi atau bisa saja sudah punah, penelitian lebih jauh harus dilakukan untuk memastikannya,” ungkap Mortelliti.
Margaretamys christinae adalah spesies baru yang terakhir ditemukan di pegunungan Mekongga. Pada bulan Maret, peneliti Indonesia dan Amerika Serikat memublikasikan spesies tawon raksasa yang dinamai Megalara garuda.




14 Feri Layani Sultra-Sulsel

KOMPAS Images/Fikria Hidayat
Ilustrasi: Feri.

KENDARI, KOMPAS.com - Sebanyak 14 unit armada feri saat ini aktif melayani lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antara Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Dinas Perhubungan Sultra, Burhanuddin HS Noy, di Kendari, Sabtu (21/7/2012) ini, mengatakan, 14 armada feri itu melayani tiga pelabuhan lintas penyeberangan yang menghubungkan kedua provinsi tersebut.

"Tahun ini, jumlah armada feri yang melayani tiga pelabuhan penyeberangan antarrovinsi, bertambah dari 11 feri pada tahun 2011 menjadi 14 feri," kata Burhanuddin.

Tiga pelabuhan penyeberangan antarprovinsi dari Sultra ke Sulsel tersebut adalah pelabuhan penyeberangan Kolaka-Bajoe, penyeberangan Tondasi-Bira dan penyeberangan Lasusua-Siwa.

Menurut Burhanuddin, jumlah feri tersebut akan mengurangi terjadinya penumpukan penumpang pada kondisi tertentu, seperti pada pada musim arus mudik dan arus balik Lebaran.

"Pelabuhan penyeberangan yang sering dipadati oleh penumpang feri adalah penyeberangan Kolaka-Bajoe, yang menghubungkan Kabupaten Kolaka di Sultra dan kabupaten Bone di Sulsel. Itulah sebabnya pelabuhan itu dilayani 11 armada feri," ujarnya.

Burhanuddin berharap, dengan armada feri yang tersedia tersebut, maka bisa memaksimalkan pelayanan terhadap pemudik tahun ini yang akan menggunakan jalur tersebut.

"Perusahaan kapal penyeberangan yang melayani lintasan komersial antarprovinsi tersebut adalah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Jemla Ferry, PT Jembatan Madura, dan PT Bumi Lintas Tama," katanya.

Sumber: Antara

Editor :
Agus Mulyadi

Senin, 16 Juli 2012

Mengenal Sinonggi, Kuliner Khas Kolaka

Rumah Makan Berkah yang menyajikan Sinonggi sebagai makanan tradisional Kota Kolaka

KOLAKA, KOMPAS.com - Usaha kuliner tradisional di Kolaka, Sulawesi Tenggara masih jarang dijumpai. Namun, bukan berarti tidak ada. Salah satunya adalah Rumah Makan Berkah yang berada di Jalan Ahmad Mustin Nomor 10 km 3 Kolaka. Tempatnya sangat sederhana. Di rumah makan ini hanya ada susunan meja dan kursi dengan lima orang pelayan. Namun siapa menyangka, dalam sehari rumah makan ini mampu melayani 100-150 pelanggan. 

Menu makanan tradisional Kolaka bernama "Sinonggi" menjadi andalan dari restoran milik seorang ibu rumah tangga bernama Siah tersebut.  Wanita berusia 45 tahun ini memulai usahanya baru beberapa tahun terakhir. Siah mengatakan, selain berbisnis, usahanya ini juga dimaksudkan untuk melestarikan makanan tradisional khas Kolaka. 

"Sinonggi itu kan makanan khas suku Mekongga yang merupakan suku asli orang Kolaka. Makanan ini sudah tidak ada lagi yang kita jumpai di rumah makan Kolaka. Makanya saya buat rumah makan yang menyajikan sinonggi. Saya kan juga hobi dengan makanan ini, jadi sekalian saja," terangnya, Senin (2/7/2012). 

Siah pun mulai menjelaskan tentang Sinonggi. Makanan itu berbahan dasar sagu yang telah disiram air panas. "Kalau sudah disiram pake air panas, sagu itu kan berunah jadi kenyal, baru kita potong-potong kecil. Setelah itu dicampur pakai kuah air ikan atau sayur bening. Untuk melengkapi rasanya, ikan asin yang sudah digoreng kita campurkan ke dalam mangkuk yang sudah berisi sinonggi dan kuahnya," katanya. 

Sebagai teman makan, Sinonggi biasa disajikan dengan racikan sambel tradisional. Satu porsi Sinonggi hanya dihargai sekitar Rp. 20.000. Dalam sehari restoran ini bisa meraup keuntungan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu. Rumah Makan Berkah yang buka tiap hari mulai pukul 8.00-16.00, mencapai puncak keramaiannya ketika hari kerj,a karena tempatnya berada di kawasan perkantoran dan pertokoan di Kota Kolaka.  

Menawarkan menu makanan tradisonal dangan harga yang terjangkau menjadikan rumah makan ini alternatif pilihan bagi sebagian warga Kolaka. Contohnya Said, yang bersama keluarganya menyempatkan makan siang di tempat ini sebelum pulang ke rumahnya. "Hampir tiap hari saya ke sini. Sekarang kan dari belanja bersama keluarga, jadi sekalian saja kami singgah untuk makan siang. Sudah tentulah menu yang kami pilih itu Sinonggi. Ini satu-satunya warung yang jual Sinonggi di Kolaka, baru di sini racikan bumbunya sangat pas. Sinonggi itu kan butuh bumbu khusus. Tapi pemilik warung tidak mau memberikan resepnya," kata Said sambil tertawa. 

Pengunjung lain, Suharti, memilih membungkus menu pilihannya untuk dibawa pulang. "Saya tiap hari di sini pesan satu porsi Sinonggi untuk anak-anak di rumah. Di sini kan harganya murah jadi mending beli dari pada buat sendiri," ujarnya.

Editor :
Glori K. Wadrianto



SUMBER: http://travel.kompas.com/read/2012/07/02/13220486/Mengenal.Sinonggi.Kuliner.Khas.Kolaka

Minggu, 15 Juli 2012

Calon Haji Lansia akan Diprioritaskan

Oleh: Media Sultra

INILAH.COM, Kendari - Kanwil Kementrian Agama (Kemenag) Sulawesi Tenggara (Sultra) akan memprioritaskan pemberangkatan jamaah Calon Haji (Calhaj) Lanjut Usia (Lansia). Selain itu, Calhaj Lansia juga akan diberikan kemudahan dalam pengurusan keberangkatannya.

Kabid Penyelenggara Haji, Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Sultra, Thamrin, baru-baru ini mengatakan bahwa pemerintah telah memberikan batasan umur kepada lansia untuk melakukan perjalanan haji. Namun karena banyaknya Lansia dalam daftar tunggu, sehingga pihak kemenag akan tetap berupaya memberangkatkan, dengan mengurut dari umur yang tertua.

“Setiap tahunnya, ada batasan umur maksimal yang menjadi prioritas untuk diberangkatkan namun kami tetap berupaya untuk memberangkatkan utamanya Lansia, dengan mengurut dari umur yang tertua, “ujar Tamrin.

Pada pemberangkatan haji tahun lalu, yang menjadi prioritas adalah usia 60 tahun ke atas. Sedangkan untuk tahun ini, yang diprioritaskan adalah usia 80 ke atas. Namun pada data kemenag Sultra ada beberapa Calhaj Lansia yang berumur 92 tahun, sehingga Lansia usia 92 tersebut akan tetap menjadi prioritas untuk diberangkatkan.

Kuota Calhaj Lansia untuk pemberangkatan tahun ini yakni 200 orang, namun karena jumlah daftar tunggu untuk Lansia mencapai 600 orang, sehingga itu tetap akan kami urut dari umur yang tertua untuk diberangkatkan, ”jelasnya.

Sementara untuk kuota jamaah haji secara keseluruhan untuk tahun ini di Sultra masih sama dengan tahun lalu yakni 1.668 orang ditambah TPHD sebanyak 15 orang.

Namun apakah kuota tersebut akan tetap atau bertambah, pihak kemenag Sultra masih menunggu putusan pemerintah pusat, karena pemerintah pusat dalam hal ini kementerian agama, juga tengah berupaya agar kuota jamaah Calhaj Indonesia bisa bertambah. [ton]

Jalur Trans-Sulawesi Kembali Terhubung

Setelah terputus hampis sepekan, jembatan Pajalele di kabupaten Pinrangyang menghubungkan sulsel dan sulbar termasuk palu dan kembdari kini sudah terhubung kembali sejak selasa (10/7) kemarin.

PINRANG, KOMPAS.com — Setelah ambruk dan memutuskan jalur lintas barat Sulawesi, sejak Kamis pekan lalu, Jembatan Pajalele di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat termasuk Palu dan Kendari, Rabu (11/7/2012), akhirnya terhubung kembali.
Truk bermuatan melebihi kapasitas jembatan yang diduga jadi pemicu ambruknya jembatan telah disingkirkan, sementara Sungai Pajalele tempat jembatan darurat yang ambruk ditimbun agar bisa dilalui kendaraan.
Setelah terputus sejak kamis pekan lalu, jembatan darurat di Desa Pajalele, Kabupaten Pinrang, akhirnya kembali bisa dilalui kendaran. Sungai selebar 50 meter lebih tempat jembatan runtuh ditimbun untuk sementara waktu agar kendaraan di jalur Trans-Sulawesi yang tertahan hingga puluhan kilometer dari dua arah bisa melaluinya.
Sementara upaya perbaikan jembatan utama yang bersebelahan dengan jembatan darurat yang ambruk kini dipercepat proses penyelesaiannya agar arus transportasi di jalur ini bisa berjalan normal.
Kapolsek Lembang, Pinrang, Ajun Komisaris Muh Idris kepada Kompas.com mengatakan, sejak kemarin, arus transfortasi yang tertahan di Kecamatan Lembang dari dua arah sudah bisa melintas.
"Semua kendaran yang sempat tertahan, baik kendaraan kecil maupun kendaraan besar, seperti truk, tronton, dan bus, sudah bisa melanjutkan perjalan ke tujuan," ujar Kapolsek melalui pesan singkatnya.
Meski arus transportasi sudah terhubung sejak kemarin, dampak perekonomian yang ditimbulkannya hingga kini masih terasa. Pasokan BBM dan elpiji di semua daerah di Sulawesi Barat hingga hari ini belum normal. Sejumlah SPBU  di Polewali dan Majene, misalnya, sampai kini masih memgalami kelangkaan hingga kendaraan harus mengantre sepanjang satu kilometer ke jalan raya.
Tak hanya itu, pasokan elpiji di Kabupaten Majene termasuk kebutuhan sembako yang selama ini dipasok dari sejumlah daerah penyangga, seperti Kabupaten Enrekang dan Duri di Sulawesi Selatan, masih mengalami kelangkaan hingga harganya melonjak cukup tajam.
Bahan bangunan, seperti semen, bahkan sempat melonjak 100 persen dari harga sebelumnya. Sejumlah Warga berharap, setelah jalur transportasi kembali terhubung, pasokan sembako, termasuk BBM dan elpiji, bisa segera normal dalam beberapa hari mendatang agar warga tak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Editor :
Pepih Nugraha


Sultra Dorong Warga Kembangkan Jahe Gajah

ANTARA/Saptopno/bo
KENDARI--MICOM: Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus mendorong petani setempat mengembangkan tanaman jahe gajah sebagai salah satu komoditas rempah yang bernilai ekonomi. 

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra Chaidir di Kendari, Minggu (24/6), mengatakan, jahe gajah adalah salah satu tanaman rempah yang mudah dikembangkan di daerah itu. 

"Tanaman jahe ini mudah dibudidayakan, tidak perlu harus di tempat yang luas, tetapi di pekarangan juga bisa," katanya. 

Ia menjelaskan, jahe gajah merupakan komoditas pertanian yang prospek pasarnya cerah dan bernilai ekonomi tinggi. Oleh karena itu melalui pengembangan jahe gajah ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. 

"Petani sudah waktunya bekerja keras dan produktif selaras dengan perkembangan teknologi pertanian. Filosofi itu artinya petani mesti mau mencoba berpikir maju belajar dan terus belajar dalam bercocok tanam selektif memilih jenis tanaman pertanian yang prospeknya cerah seperti jahe gajah guna menghasilkan uang," katanya.

Kepala Dinas Peerindustrian dan Perdagangan Sultra Saemu Alwi mengatakan harga komoditas tanaman jahe gajah selalu bersaing di pasaran, dan tidak pernah merugikan petani. 

"Saat ini harga jahe gajah saat ini mencapai Rp5.000 per kilogram, sehingga para petani tertarik untuk terus mengembangkan tanaman ini," katanya. 

Katanya, permintaan konsumen terhadap tanaman ini terus mengalami peningkatan, sehingga ini adalah peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha budidaya tanaman jahe. 

"Sebagai pemerintah, kami terus berusaha menjamin pasaran produk para petani, sehingga petani bisa fokus untuk melakukan penanaman sementara pemerintah menyiapkan pasar," katanya. (Ant/Ol-3) 


SUMBER: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/24/328410/290/101/Sultra-Dorong-Warga-Kembangkan-Jahe-Gajah

Airtrance Softball Tournament ; Tim Putri Lakidende Sapu Bersih

SERU. Pertandingan antara tim Laston (biru orange) melawan tim Harisma Bone berlangsung seru di Lapangan Softball Karebosi, Kamis 5 Juli kemarin.

MAKASSAR, FAJAR -- Tampil dengan formasi yang sama saat menduduki posisi runner up Unhas Cup dua bulan lalu, tim putri Lakidende Kendari menunjukkan keperkasaannya. Dua laganya Kamis, 5 Juli kemarin disapu bersih.
Sarah dkk dua kali meraih kemenangan dalam laga yang dihelat di Lapangan Softball Karebosi. Paginya, dimana Lakidende Kendari menang telak atas Harisma Bone dengan skor 20-0.

Di laga kedua sore harinya, lagi-lagi Lakidende menang telak dengan skor 18-0, saat bertemu Airtrance. Dengan hasil ini, tim putri Lakidende Kendari membuka peluang meraih gelar juara Airtrance Softball Tournament I.
Sementara pada pertandingan lainnya, tim putra Pinguin Balikpapan menang atas Smada 16-0. Dengan kekalahan itu, Smada tersingkir karena tiga kali bertanding tak pernah meraih kemenangan.

Laga lainnya yang mempertemukan dua tim  unggulan, yakni tim putra Laston melawan Harisma berakhir dengan kemenangan Harisma 4-0. Dengan demikian, Harisma memastikan lolos ke babak berikutnya.
Panitia Airtrance Softball Tournament, Rahman Hamzah mengatakan, pertandingan terakhir sore kemarin antara Laston melawan Harisma berlangsung ketat di bawah cuaca mendung. Namun, laga harus diakhiri karena sudah mencapai satu setengah jam.

"Tim Harisma Bone yang berhak meraih kemenangan dan memastikan diri melaju ke babak berikutnya," sebut Rahman.
Ketua panitia, Hj Nuriah Pingkan Rahman, yang juga mantan atlet softball Sulut ini, menjelaskan, pada hari kedua sudah ada satu tim yang memastikan diri lolos yakni tim Harisma Bone di bagian putra. Sedangkan Smada tersingkir. (ram)

Asik! Puskesmas di Kendari Gunakan Askes Online

INILAH.COM, Kendari - Layanan Askes untuk registrasi secara online direncanakan akan menjangkau hingga tingkat puskesmas. Dengan demikian pasien tidak perlu harus dirujuk ke rumah sakit lagi untuk dilayani Askes.

Hal itu diungkapkan Kasie Hubungan Pelanggan dan Pemasaran PT. Askes cabang Kendari, Supratman, S.Kom, di Kendari pekan lalu.

“Mudah-mudahan kedepan bisa sampai ke Puskesmas. Yang harus kita siapkan adalah fasilitas tentunya terutama akses internet, ”tandasnya.

Dia mengatakan, PT Askes saat ini tengah melakukan pendataan profil rumah sakit dan puskesmas untuk keperluan itu.

Jumlah total pelanggan Askes saat ini mencapai 154.000 orang, berdasarkan data dari kantor PT Askes cabang Kendari yang melayani wilayah Kota Kendari, Konawe, Konsel, Kolaka dan Kolut.

Satu-satunya daerah yang belum terjangkau adalah Konawe Utara. “Kendalanya adalah disana belum ada jaringan listrik permanen sehingga tidak bisa online. Fasilitas juga belum memungkinkan untuk itu, ”ungkapnya.


SUMBER: http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1873912/asik-puskesmas-di-kendari-gunakan-askes-online

Jumat, 08 Juni 2012

DPR Sahkan Sultra Masuk Kelompok Provinsi Kepulauan

Ilustrasi sidang paripurna anggota DPR RI.
JAKARTA -- Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya gelar Provinsi Kepulauan resmi disandang Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini setelah DPR RI dalam sidang paripurna, Kamis (31/5), menyepakati terbentuknya Rancangan Undang-Undang (RUU) Provinsi Kepulauan sekaligus menerima Provinsi Sultra menjadi salah satu provinsi dalam kelompok provinsi kepulauan yang ada di Indonesia.

Diparipurna itu, DPR secara resmi mensahkan RUU ini sebagai RUU inisiatif DPR RI, atau Rancangan Undang-Undang Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan (RUU PPDK) yang lebih dikenal dengan RUU Kepulauan.

Selain memasukkan Provinsi Sultra kedalam kelompok provinsi kepulauan, DPR melalui Fraksi Partai Demokrat mengangkat anggota DPR RI dari Dapil Sultra Umar Arsal menjadi salah satu anggota Panitia Khusus (Pansus) RUU Kepulauan. 

Ditemui usai penetapan dirinya sebab anggota Pansus, Umar Arsal menyampaikan komitmennya mengawal hingga tuntas pembahasan RUU Kepulauan hingga menjadi satu UU, yang rencananya RUU ini ditargetkan disahkan menjadi UU pada masa sidang ini. 

Sebab kata Umar yang juga anggota Badan Anggaran DPR, draf naskah akademik RUU Provinsi Kepulauan telah dibahas, dan pembahasan RUU Kepulauan telah lama digelar antara Kementerian/lembaga bersama Komisi terkait dan pemerintah provinsi yang masuk dalam kelompok tersebut. 

Dengan masuknya provinsi Sultra kedalam kelompok Provinsi Kepulauan, maka telah mengenapkan jumlah provinsi yang sebelumnya ada yakni dari tujuh provinsi menjadi delapan, yakni: Provinsi Maluku, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. 

Umar menjelaskan, masuknya Provinsi Sultra kedalam kelompok Provinsi Kepulauan telah menjawab pertanyaan sejumlah pihak, yang mempertanyakan mengapa Sultra tak masuk dalam provinsi kepulauan, beberapa waktu lalu. 

Padahal katanya, sewaktu dirinya duduk di Badan Legislasi DPR, ia telah mengusulkan daerah di Sultra masuk didalamnya, namun setelah dirinya di pindahkan ke Badan Anggaran, nama Provinsi Sultra dikeluarkan. 

"Setelah saya dipindah ke Banggar, saya kaget dengar Provinsi Sultra ternyata tidak masuknya. Tapi sekarang, berkat perjuangan setelah saya duduk di Pansus RUU Provinsi Kepulauan, akhirnya Kamis kemarin DPR resmi memasukan Provinsi Sultra menjadi provinsi kepulauan," terangnya. 

Pada Senin lalu, DPR RI telah mengesahkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) RUU PPDK di Rapat Sidang Paripurna, yang dipimpin Ketua DPR RI, Marzuki Alie. 

Pihaknya menargetkan, RUU ini dapat diselesaikan dalam dua bulan ke depan. Sehingga bulan Agustus 2012 sudah bisa disahkan menjadi UU. Sekaligus menjadi kalo ulang tahun bagi Provinsi Sultra di hari Kemerdekaan RI. 

Dia berharap hadirnya RUU ini, mampu mendorong percepatan pembangunan di Sultra yang selama ini masih tertinggal dari daerah lain. Dengan lahirnya UU baru ini, pembangunan di Sultra dan daerah kepulauan lainnya dipastikan akan maju pesat. Karena dalam RUU itu, provinsi kepulauan diberikan penganggaran khusus yang berbeda dengan daerah lain. 

“Selama ini rumus menghitung dana transfer daerah, seperti DAU dan lainnya terkesan diskriminasi, dimana jumlah anggaran yang diberikan berdasarkan seberapa besar luas wilayah daratan dan jumlah penduduk daerah itu, sehingga daerah kepulauan yang sempit wilayah daratnya akhirnya paling dirugikan dari perhitungan itu," tuturnya. 

Padahal lanjutnya, proses pembangunan di sejumlah daerah didah harus sama. Daerah kepulauan membutuhkan biaya tinggi, sementara daerah yang daratannya lebih luas, membutuhkan biaya yang relatif kecil. 

“Misalkan, membangun jembatan di pulau terpencil tentu biayanya tinggi. Karena transportasi untuk mengangkut barang mentah ke daerah tersebut, dipastikan mengeluarkan biaya besar. Sebab jauh dari kota, ini contoh sederhana,” katanya. 

Selama ini terkesan, wilayah lautan selama seperti dianggap bukan bagian dari wilayah kesatuan, sehingga rumus DAU tidak memperhitungkannya. Padahal tanpa lautan daerah tercerai berai. Justru lautan merupakan medium pemersatu. 

Konektifitas sangat penting, karena akan menunjang ekonomi daerah tersebut. Begitu juga informasi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Wilayah seperti Maluku dan daerah kepulauan lainnya harus mendapat perhatian lebih.

“Jangan sampai akses kesehatan di pulau terpencil tidak memadai, dan ketika ada masyarakat yang sakit, tapi pada saat mau di bawah ke kota untuk mendapat perawatan, namun tidak bisa dilakukan, karena tidak ada angkuta. Atau ada angkuta, tapi harus menempuh perjalanan berhari-hari. Orang sakit bisa meninggal di perjalanan,” kata politis Partai Demokrat ini.(ags)


SUMBER: http://www.fajar.co.id/read-20120604113830-dpr-sahkan-sultra-masuk-kelompok-provinsi-kepulauan-

Sulawesi Tenggara Bangun Kebun Percontohan Bawang Merah

KENDARI--MICOM: Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara membangun kebun percontohan untuk tanaman bawang merah seluas 5 hektare. 

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara (Sultra) Chaidir di Kendari, Minggu (3/6), mengatakan bahwa kebun percontohan tersebut terdapat di Kabupaten Kolaka Utara dan Kabupaten Buton. 

"Seluas 1 hektare kebun percontohan bawang merah terdapat Desa Tolalang, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, dan 4 hektare terdapat di Kecamatan Sampolawa dan Kecamatan Lapandewa Kabupaten Buton," kata Chaidir. 

Ia mengatakan bahwa anggaran untuk kebun percontohan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sultra tahun 2012. 

Dari kebun percontohan itu, target produksi bawang merah 50 ton setiap tahun dengan produktivitas 10 ton per hektare. 

"Tekstur tanah di Sultra, utamanya pada beberapa kabupaten, sangat cocok untuk pengembangan tanaman bawang merah," ujarnya. 

Kebun percontohan tersebut, kata Chaidir, guna memberikan dorongan kepada warga atau petani untuk menanam dan mengembangkan tanaman bawang merah di provinsi itu. 

"Kalau petani di sini bisa mengembangkan tanaman bawang merah akan mengurangi ketergantungan dari daerah lain di Indonesia yang merupakan produksi bawang, seperti dari NTB," katanya. 

Menurut dia, produksi bawang merah di Sultra selama ini bisa mencapai 640 ton dalam setahun dengan luas panen sekitar 213 hektare. Tingkat produktivitas bawang merah mencapai 3 ton per hektare. (Ant/OL-5)


SUMBER: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/04/323916/290/101/Sulawesi-Tenggara-Bangun-Kebun-Percontohan-Bawang-Merah

Senin, 28 Mei 2012

La Ode Muhammad Djafar Dinobatkan Sultan Buton


KENDARINEWS.COM - Baubau, Setelah cukup lama vakum, sekitar 52 tahun, sejak Sultan Buthuuni yang ke-38, La Ode Muhammad Falihi pada tahun 1960, maka rencananya Jumat (25/5)  besok, di Baruga Keraton Kesultanan Buton, Kota Baubau, akan dinobatkan H. La Ode Muhammad Djafar SH sebagai Sultan Buton.
Salah seorang perangkat Kesultanan Buton, Drs Sirajuddin Anda yang menjabat sebagai Bonto Ogena Sukanaeyo mengatakan, penobatan Sultan Buton dalam ritual adat yang dilaksanakan  di Baruga depan masjid Agung Keraton pada hari Jumat (25/5) mendatang merupakan kelanjutan dari proses terdahulu yaitu proses penjaringan pemilihan calon Sultan. "Mulai dari  proses tahapan penjaringan calon sultan melalui kambojae, sesudah kambojae di bawa ke Bonto Ogena untuk mendapatkan kesepakatan.  Dan dalam proses selanjutnya ditindaklanjuti dalam bentuk prosesi adat yang dimulai dengan yang berlaku selama ini yaitu melalui fali,” jelasnya.
   
Fali merupakan salah satu proses penentuan dari pada calon Sultan berdasarkan keyakinan keagamaan untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. “ Melalui acara yang kita lakukan di Baruga Keraton ini yaitu pada acara yang terakhir kita lakukan sukanaya pau (pengumuman sultan terpilih) berdasarkan proses penjaringan secara lahiriah dan  terakhir penelitian terhadap siapa yang layak untuk mendapatkan berkah dan petunjuk dari Allah SWT yang dilakukan pada malam Jumat di masjid Agung keraton,” terangnya.
   
Dijelaskan, pada tanggal 25 Mei 2012  adalah hari yang telah kita sepakati untuk penobatan Sultan di Baruga. Malamnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan pada pukul 24.00 dilanjutkan acara pemberian pemberitahuan kepada Sultan terkait  kapasitasnya sebagai sultan dan perannya yang akan dilakukan kelak.
   
Dari proses penjaringan hingga terpilihnya sultan memakan waktu 120 hari, hal tersebut mempunyai makna tersendiri.
   
Ketua Panitia Penobatan Sultan Buton, La Ode Ahmad Monianse, menguraikan, Kerajaan Buthuuni (Buton) adalah kerajaan yang berdaulat sejak abad ke-13, dan kemudian mengubah status pemerintahannya menjadi Kesultanan Buthuuni pada 1 Ramadhan 948 hijriyah (1540 masehi), ketika itu agama Islam resmi menjadi agama kesultanan.
   
“Kesultanan Buthuuni telah menetapakan sistem pemerintahan yang modern, struktur pemerintahan yang lengkap dengan mencakup segala bidang, pembagian wilayah antara pusat dan daerah dengan masing-masing memiliki kedaulatan sendiri-sendiri selama 7 abad. Namun pada akhirnya, Sultan Buton ke-37, La Ode Muhammad Falihi mangkat tahun 1960, dan sejak itu Kesultanan kekosongan pucuk pemimpin,” jelasnya.
   
Akhirnya, kata Monianse,  pada tanggal 12 Pebruari 2011 tahun lalu, tokoh adat dan budaya se-Kesultanan Buthuuni menggagas pertemuan di Baruga Keraton Buthuuni dengan menghasilkan kesepakatan bersama, yakni membentuk kembali perangkat Kesultanan Buthuuni dan nama Lembaga Adat Kesultanan Buton yang diawali dengan pembentukan Siolimbona.
   
Sejumlah pejabat penting negara telah mengkonfirmasikan kesediaannya untuk hadir dalam penobatan Sultan Buton, H.La Ode Muhammad Djafar SH, 25 Mei 2012 di Keraton Kesultanan Buton, Kota Baubau, SulawesiTenggara. Pejabat tersebut diantaranya, Menko Kesra, Agung Laksono, Wamen Pendidikan dan Kebudayaan, Wakil Ketua DPD-RI La Ode Ida, mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.
   
Selain pejabat negara, juga dua Sultan telah menyatakan kesediaannya untuk hadir, yaitu Sultan Palembang Darussalam, Iskandar Mahmud Badaruddin, dan Sri Sultan Ternate, Mudafar Sjah. Kehadiran Sultan Palembang Darussalam, posisinya sebagai ketua persatuan kerajaan/kesultanan nusantara, sementara untuk Sultan Ternate yakni alasan emosional, dan hubungan kekerabatan, serta sejarah panjang diantara kedua kesultanan tersebut.(sam)

KENDARI POS

RUMAH BUDAYA SULAWESI TENGGARA


Anjungan atau bangunan induk anjungan mengambil bentuk Istana Sultan Buton (disebut Malige) yang megah. Meskipun didirikan hanya dengan saling mengait, tanpa tali pengikat ataupun paku, bangunan ini dapat berdiri dengan dengan kokoh dan megah diatas sandi yang menjadi landasan dasarnya. Patung dua ekor kuda jantan yan sedang bertarung, pelengkap bangunan, menggambarkan tradisi mengadu kuda dari Pulau Muna yang digemari masyarakat Sulawesi Tenggara
Di Taman Mini Indonesia Indah, anjungan Sulawesi Tenggara terletak di sebelah tenggara arsipel, bersebelahan dengan anjungan Sulawesi Selatan serta berhadapan dengan istana anak-anak Indonesia. Dalam memperkenalkan daerahnya propinsi Sulawesi Tenggara menampilkan bangunan induk yang merupaka tiruan dari istana raja Buton yang disebut Malige.
Bangunan ini sengaja ditampilkan karena bangunan yang asli masih ada di pulau Buton serta merupakan satu peninggalan budaya yang bersejarah. Di halaman anjungan dilengkapi dengan patung-patung orang berpakaian adat antara lain dari daerah Buton, Muna, Kendari dan Koloka. Juga patung 2 ekor kuda jantan yang sedang berlaga, memperebutkan kuda betina. Adegan in menggambarkan Pogerano Ajara, jenis aduan kuda khas Sulawesi Tenggara, dan merupakan permainan raja-raja. Selain Anoa, Rusa dan lain-lain.
Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Banguanannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar.
Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala da semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong.
Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
Adapun susunan ruangan dalam istana ini adalah sebagai berikut:
1 Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebgai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebgai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebgai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan diperguakan sebagai makar anak perempouan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.
Di anjungan Sulawesi Tenggara, lantai pertama ini konstruksi atau susunan ruangan sudah diubah sesuai dengan keperluan, sebagi pameran dan peragaan aspek kebudayaan daerahnya. Di sini dipamerkan pakaian kebesaran tradisional raja Kendari beserta permaisurinya, juga pakaian kebesaran raja Muna,panglima perang atau Kapitalao, menteri besar atau Banto Balano dan Pasi yakni petugas pengurus benda pusaka kerajaan. Semuanya dipamerkan dengan bentuk boneka berpakaian tradisional tersebut. Di ruanga inipun dioamerkan berbagai jenis hasil kerajiana perak Kendari, kerajinan anyaman-anyaman, tenunan serta benda-benda pusaka, beberapa goci dan berbagai binatang yang telah diawetkan seperti penyu, burung Meleo, penyu bersisik, biawak, enggang dan lain-lain.
2 Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula.
3 Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi
4 Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Disamping kamar bangunan Malige terdapat sebuah banguan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini di[pergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukira naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan dibawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandunga makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton.
Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas in dilambangakan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia. Anjugan daerah Sulawesi Tenggara dibangun sejak tahun 1973 dan diresmikan pengggunaannya pada tahun 1975.
Bertindak sebagai perancang terutama pada bangunan induknya adalah orang-orang adat dari bekas kesultanan Buton. Pada halaman anjungan terdapat arena pertunjukan dengan latar belakang relief, yang menggambarkan kebudayaan di Sulawesi Tenggara. Di arena inilah pada hari Minggu atau hari libur dipagelarkan kesenian tradisional seperti tari-tarian antara lain tari Kalegoa, tari Lariangi, tari Balumpa, tari Malulo dan lain-lain. Jenis tarian terakhir merupakan tarian pergaulan yang ditarikan dengan membentuk suatu lingkaran, bila besarnya lingkaran telah mencapai lebar arena, dibentuk lagi lingkaran baru di dalamnya, begitu seterusnya sehingga membentuk lingkaran yang berlapis-lapis karena semakin banyak orang yang melibatkan diri ikut menari tarian Malulo ini.
Selain itu juga ditampilkan musik lagu-lagu daerah, dan diwaktu-waktu tertentu dipamerkan makanan-makanan khas daerah Sulawesi Tenggara ataupun karnaval tradisional. Anjungan daerah Sulawesi Tenggara telah menerima kunjungan tamu negara pada tanggal 1 Mei 1983 yakni istri P.M Jepang, Ny. Tautako Nakasone dan pada tanggal 10 November 1984 berkunjung pula istri P.M. Thailand, Ny. Virat Chomanan-
(TMII)

Jumat, 25 Mei 2012

Sultra Iming-imingi Bonus Atlet PON


Kendari - Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam mengiming-imingi bonus bagi atlet peraih medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012. Namun Gubernur Sultra yang juga Ketua Umum KONI belum merinci besaran bonus yang dimaksudkan sebagai perangsang atlet dan pelatih menghadapi perhelatan akbar empat tahunan tersebut.

"Pemerintah dan KONI memastikan adanya penghargaan berupa bonus bagi atlet yang sukses menyumbangkan medali emas, perak maupun perunggu pada PON XVIII," kata Nur Alam saat memimpin rapat persiapan pelatda di Kendari, Senin (21/5).
"Pada PON XVII 2008 silam dialokasikan bonus bagi peraih medali emas sebesar Rp70 juta. Besarannya tidak jauh berbeda dengan bonus yang lalu," katanya sembari tersenyum.

Ia mengimbau atlet, pelatih dan semua pihak yang terlibat dalam persiapan menghadapi PON agar menjaga kekompakan dan saling memaklumi sehingga semua berjalan lancar dan tujuan yang dicita-citakan tercapai.

"Daerah kita berbeda dengan daerah lain. Pembiayaan olahraga masih tergantung kepada pemerintah sementara daerah lain sudah melibatkan pihak ketiga," katanya.

Oleh karena itu, kekurangan yang dihadapi dijadikan motivasi untuk mencari jalan keluar, bukan justru menyurutkan semangat sebelum bertanding.

Sekretaris PODSI Sultra Arifin L Godo mengatakan bonus adalah perasang atlet dan pelatih dalam berlatih.

"Lebih dini disampaikan besaran bonus bagi peraih medali emas, perak dan perunggu lebih baik. Artinya, janji bonus tidak berarti apa-apa kalau sudah diarena pertandingan.

Pada PON XVIII Riau 2012 Sultra meloloskan 15 cabang olahraga dengan kekuatan 133 atlet dan menargetkan 10 medali emas. [EL, Ant]


http://www.gatra.com/olahraga/34-olahraga/12864-sultra-iming-imingi-bonus-atlet-pon

Kamis, 24 Mei 2012

Pulau Indo, Kabupaten Muna

Kabupten Muna mempunya banyak tempat tempat wisata, diantaranya tempat rekreasi yang paling menarik Pulau Indo yang berada di Kecamatan Tikep banyak jalur untuk menempuh tempat rekreasi ini seperti Melalui Kec. Napabalano (Tampo), Kec. Kusambi (Tanjung Pinang, Lakawoghe), Kec. Napano Kusambi (Latawe), dan Jalur Tikep lewat Tondasi. Objek Wisata Bahari Pulau Indo di bangun pada tahun 2006 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan.
Objek Wisata ini menawarkan hamparan pasir putih yang begitu luas bila pada saat air surut. dan bila air pasang bangunan tempat untuk peristrahatan seperti rumah² atau yang biasa di sebut gazebo berada diatas air jadi tempatnya terapung membuat kita terasa sejuk berada di tempat ini, seperti pada gambar berikut
Objek Wisata Bahari Pulau Indo ini mempunyai kemiripan dengan Objek Wisata Pantai Seleb Dunia.
Akses Tempat
Dari Kota Raha kita bisa melalui Jalur Tampo (Napabalano), Tondasi (Tikep), Tanjung Pinang, Lakawoghe (Kusambi). Disini saya mengambil jalur Kusambi karena waktu tempu dari kota raha karena jarak Pusat Ibu kota (Raha) dengan Desa Tanjung Pinang (Kusambi) kurang lebih 30Km dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan dan dari Tanjung Pinang kita naik Perahu Sampan, Katinting dengan jarak tempuh 30 menit – 1 jam. Dan untuk Jaringan Telepon Seluler yang ada di Pulau Indo adalah Telkomsel dan Indosat.

Rabu, 23 Mei 2012

Pulau Hoga, Kecantikan Sempurna dari Sulawesi Tenggara

Pohon kelapa dan pasir putih khas Pulau Hoga (arya sadhewa/dTraveler)

Mari selami keindahannya (Oke Hastiawan/ACI)

Terumbu karang yang cantik 

(Oke Hastiawan/ACI)

Penginapan di Pulau Hoga (Terryna Padmi Tunjungsari /ACI)

Senja di Pulau Hoga (Kak Nunuk/ACI)

Namanya mungkin kurang terkenal dari Bunaken atau Raja Ampat. Akan tetapi, Pulau Hoga yang berada di Wakatobi, Sulawesi Tenggara ini memiliki pesona bagi para penyelam. Kecantikan lautnya sungguh sempurna.

Wakatobi merupakan surga penyelam yang terletak di Sulawesi Tenggara. Salah satu dari 29 titik penyelaman di Wakatobi adalah Pulau Hoga. Pulau ini memiliki kekayaan biota bawah laut dan juga keindahan pantai. Saat berkunjung ke Wakatobi, yang dapat ditempuh dengan penerbangan melalui Wangi-wangi, sempatkanlah mengunjungi Pulau Hoga.


Dari situs resmi pariwisata Indonesia yang dikunjungi detikTravel, Senin (21/5/2012), Pulau Hoga memiliki luas sekitar 1,3 juta hektar dan merupakan gabungan dari beberapa pulau. Pulau ini mempunyai 750 spesies koral dari sekitar 850 yang ada di dunia. 

Saat menyelam, Anda akan bertemu 83 jenis ikan berwarna-warni yang cantik. Beberapa jenis ikan yang dapat Anda temui di sana seperti takhasang, pogo-pogo, napoleon, baronang, dan masih banyak lagi. Tak heran tempat ini menjadi favorit bagi para penyelam.

Pantainya pun memiliki pesona yang menggoda. Sepanjang mata memandang, hamparan pasir putih menyelimuti pantai di Pulau Hoga. Dengan daratan yang ditumbuhi pohon kelapa dan lambaian angin laut, tidak sedikit wisatawan yang menghabiskan waktunya untuk bersantai di pantai.

Untuk penginapan, di Pulau Hoga terdapat beberapa penginapan yang nyaman dan memadai. Penginapan-penginapan di sini memiliki kisaran harga Rp 200.000-300.000 per harinya. Kebanyakan, penginapannya terbuat dari kayu dan tanpa AC atau pun kipas. Hal ini pun akan membuat Anda lebih syahdu dalam menikmati tiap detik di Pulau Hoga. Selain itu, di Pulau Hoga juga terdapat dive center untuk Anda yang ingin menyelam.

Tidak hanya wisatawan lokal, banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Hoga. Keindahan bawah lautnya akan membuat Anda takjub dengan terumbu karang dan ikan laut yang berwarna-warni.


sumber : http://travel.detik.com/read/2012/05/21/165536/1921075/1025/5/pulau-hoga-kecantikan-sempurna-dari-sulawesi-tenggara